Kamis, 26 April 2012

Berpaling dari Al-Qur'an = Menjadi Teman Syaitan

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkannya) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (43:36)

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (43:37)

Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari kiamat) dia berkata, "Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu (syaitan) seperti jarak antara masyrik (timur) dan maghrib (barat), maka (memang) syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)". (43:38)

(Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu (pantas) bersama-sama dalam azab itu. (43:39)

Penjelasan :

Jika kita berpaling dari Al-Qur’an, maka kita akan senantiasa disertai oleh syaitan yang menyesatkan kita.

Sabtu, 14 April 2012

Menyampaikan Titipan Allah


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat (titipan-titipan) yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (8:27)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala (imbalan) yang besar. (8:28)

Dan di dalam harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. (51:19)

Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya, (4:58)

Penjelasan :

Di dalam harta kita ada hak orang miskin yang dititipkan oleh Allah melalui tangan kita. Oleh karena itu, marilah titipan Allah tersebut kita sampaikan kepada yang berhak menerimanya.

Jumat, 13 April 2012

Mengundang Rahmat atau Azab ?

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (17:82)

Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang (diamlah) agar kamu mendapat rahmat. (7:204)

Dan orang-orang yang ingkar berkata, "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (41:26)

Maka sungguh, akan Kami timpakan azab yang keras kepada orang-orang yang ingkar itu dan sungguh, akan Kami beri balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. (41:27)

Penjelasan :

Mendengar dan memperhatikan dengan tenang (diam) ketika Al-Qur’an sedang dibacakan, berarti mengundang datangnya rahmat Allah. Sebaliknya, tidak mau mendengarkan ketika Al-Qur’an sedang dibacakan dan membuat kegaduhan terhadapnya, berarti melakukan keingkaran dan mengundang datangnya azab Allah.

Kamis, 12 April 2012

Tiada Iman Tanpa Shalat dan Infak

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (berserah diri). (8:2)

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (8:3)

Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (8:4)

Penjelasan :

Diantara ciri-ciri orang yang benar-benar beriman adalah mendirikan shalat dan menunaikan infak setiap kali memperoleh rezeki. Jika salah satu atau kedua ciri-ciri tersebut tidak ada pada diri kita, berarti kita belum termasuk orang yang benar-benar beriman.

Hadir = Berbuat

Dan sungguh, Allah telah menurunkan kepadamu di dalam Kitab (Al-Qur`an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk bersama mereka), sesungguhnya kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam (neraka) Jahannam, (4:140)

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan ini). (6:68)

Penjelasan :

Jika kita hadir di tempat orang-orang yang sedang melakukan keingkaran dan memperolok-olokkan ayat-ayat Allah, maka kita akan dipandang sama (oleh Allah) dengan orang-orang yang melakukan keingkaran dan mengolok-olok tersebut. Sikap seorang mukmin adalah segera meninggalkan mereka (yang melakukan keingkaran dan mengolok-olok tersebut), hingga mereka beralih ke pembicaraan yang lain.

"Allaahu Akbar" = Tidak Sombong

Dan besarkanlah (agungkanlah) Dia dengan sebesar-besarnya. (17:111)

Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits qudsi : Allah berfirman, “Kebesaran (kesombongan) adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang lancang memperebutkan salah satu dari keduanya, maka Aku akan melemparkannya ke neraka Jahannam.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Penjelasan :

Mengucapkan “Allaahu akbar” (Allah Mahabesar) berarti menyatakan kebesaran Allah, sekaligus mengakui kecilnya diri kita. Kalimat “Allaahu akbar” yang sudah membekas dalam jiwa akan membebaskan kita dari sifat suka membesarkan diri (sombong).

"Alhamdu lillaah" = Tidak Puji Diri

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. (1:2)

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan (pemilik) langit dan bumi, Tuhan seluruh alam. (45:36)

Penjelasan :

Mengucapkan “al-hamdu lillaah” (segala puji hanya bagi Allah) berarti menyatakan bahwa hanya Allah yang berhak untuk dipuji. Kalimat “al-hamdu lillaah” yang sudah meresap ke dalam hati akan menghilangkan sifat suka dipuji dan kebiasaan (suka) memuji diri sendiri.

Ujian = Kasih-sayang Allah

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji? (29:2)

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (29:3)

Dan Kami pasti akan menguji kamu, dengan sedikit ketakutan / kekhawatiran, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (kekurangan hasil usaha). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155)

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)”. (2:156)

Mereka itulah yang memperoleh keberkatan yang sempurna dan rahmat (kasih-sayang) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157)

Penjelasan :

Setiap kita yang mengaku beriman pasti akan diuji oleh Allah, untuk membuktikan kebenaran pengakuan iman kita. Apabila ujian-ujian tersebut kita lalui dengan sabar, yaitu dengan kembali mendekatkan diri kepada-Nya, maka dibalik semua (ujian) itu Allah telah menyiapkan keberkatan yang sempurna, kasih-sayang dan petunjuk-Nya bagi kita.

Rabu, 11 April 2012

Dari Mana Timbulnya Kesombongan ?

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan memandang rendah / hina (sesama) manusia (Hadits, diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi)

Allah berfirman, "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?". (38:75)

Iblis berkata, "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (38:76)

Penjelasan :

Sifat sombong, sebagaimana dimiliki oleh iblis, timbul karena merasa diri lebih baik dari (manusia) yang lain.

Kesombongan Mengunci Hati

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (47:24)

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku. Kalaupun mereka melihat setiap ayat(Ku) , mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. (7:146)

Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (40:35)

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan memandang hina (sesama) manusia. (Hadits, diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi)

Penjelasan :

Sifat sombong, yaitu menolak kebenaran dan memandang hina sesama manusia akan mengakibatkan terkuncinya hati kita, sehingga tidak mau memperhatikan dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an.

Cinta Dunia Menutup Hati

Dijadikan terasa indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita (sebaliknya, bagi wanita : pria), anak-anak (anak kandung, anak angkat, anak buah), harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan yang bagus), binatang-binatang ternak dan sawah ladang (lahan usaha / bisnis). Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (3:14)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan / ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala (imbalan) yang besar. (8:28)

Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu (suami / isteri), kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (9:24)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (16:107)

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (16:108)

Penjelasan :

Harta-kekayaan, anak-anak, dan lain-lain kesenangan hidup di dunia hanyalah cobaan / ujian, untuk menguji cinta kita kepada Allah. Jika kecintaan kita kepada kesenangan hidup didunia melebihi cinta kita kepada Allah dan pengharapan akan kebahagiaan di akhirat, maka hati kita akan terkunci (tertutup) untuk menerima petunjuk Allah.

Beriman adalah Mencintai Allah

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. (2:165)

Dia (Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya (5:54)

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (3:31)

Katakanlah, "Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang tidak beriman". (3:32)

Penjelasan :

Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah. Oleh karena itu, jika kita tidak mencintai Allah, berarti kita belum termasuk orang yang beriman. Dengan kata lain, jika kita ingin agar termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman, kita haruslah menjadi orang yang mencintai Allah.

Cinta kita kepada-Nya akan dibalas oleh Allah (Dia juga akan mencintai kita), asal saja kecintaan tersebut kita buktikan dengan menta’ati Dia dan Rasul-Nya.

Iman = Aman

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) *, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (6:82)

Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan / kekhawatiran menjadi aman sentosa. (24:55)

Penjelasan :

Dengan beriman, maka kita akan dianugerahi oleh Allah rasa aman, yaitu bebas dari ketakutan / kekhawatiran. Akan tetapi, rasa aman tersebut tidak akan kita peroleh jika iman kita masih bercampur dengan syirik (mempersekutukan Allah).





* Sesungguhnya syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezhaliman   yang besar. (31:13)

Menyampaikan dengan Kelembutan


Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (20:44)

Maka berkat rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras / kasar dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (3:159)

Penjelasan:

Hanya kelembutan yang dapat mendatangkan kesadaran. Pengajaran yang disampaikan dengan kata-kata kasar hanya akan membuat orang lain menjauhi kita.

Jika Kebenaran Mengikuti Hawa Nafsu


Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti rusak-binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (Al-Qur`an), mereka tetapi mereka berpaling dari peringatan (Al-Qur’an) itu. (23:71)

Penjelasan:

Kebenaran yang dibawa / disampaikan dengan mengikuti hawa (keinginan) nafsu, tanpa berpedoman kepada Al-Qur’an, akan mendatangkan kerusakan.

Memberi Petunjuk adalah Hak Allah



Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (2:272)

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia (Allah) lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28:56)

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (10:99)

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan. (88:21)

Kamu bukanlah orang yang (berhak) memaksa atas mereka, (88:22)

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (18:29)

Jika mereka berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan (wahyu Allah) dengan terang. (16:82)

Penjelasan :

Memberi petunjuk adalah hak Allah. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan peringatan Allah, tanpa ada hak untuk memaksa orang lain agar mau menerima apa yang kita sampaikan.